Selasa, 07 April 2009

Sukses Orang Tua atau Sukses Anak?

Anak adalah asset tak ternilai dan merupakan amanah yang harus dipikul di pundak orang tua. Orang tua bertanggung jawab atas terlaksananya amanah ini. Bila orang tua salah mendidik anak, kesalahan itu akan menyebabkan kerusakan yang nyata, jika sukses dalam mendidik, berarti kita akan menuai hasilnya di jannah kelak. Setiap orangtua tentu menginginkan anak-anaknya menjadi sukses dan akan memberikan yang terbaik untuk mereka. Segala hal yang dianggap terbaik dilakukan agar anaknya menjadi “ Superman “. Tapi jangan berlebih-lebihan higga kita terjebak dalam hyper parenting.Umar tak lagi seceria teman – temannya. Ia jadi seorang pemurung dan mudah temperamen. Bocah tujuh tahun ini baru duduk di kelas dua, luar biasa sibuknya. Dalam sehari waktunya dipenuhi dengan berbagai aktivitas. Mulai dari sekolah fulldaynya, dilanjutkan dengan bermacam-macam les. Mulai dari bimbel LBB, les computer, piano, renang, bahasa inggris, dan masih banyak lagi. Hingga hilang waktu bermainnya. Orang tua Umar dengan seksama mengatur detik per detik putranya tersebut. Bagi orang tuanya inilah yang terbaik untuk putranya agar kelak berguna di masa mendatang. “ Kami sangat serius dalam merawat Umar sebelum kami kehilangan masa kecilnya. Kami tidak ingin Umar seperti kami yang semasa kecil tidak mendapat cukup rangsangan dari orang tua.” tegas ayahnya. Bahagiakah Umar? Benarkah semua itu bisa mendongkrak kesiapan masa depan Umar? Sepotong kisah diatas contoh profil orang tua yang menjalankan hyper parenting. Hyper parenting adalah sebuah upaya yang dilakukan orang tua untuk mengontrol semua lingkungan anak. Hal ini dilakukan agar mendapatkan output atau profil anak yang sempurna. Menurut Alvin Rosenfeld, M.D. dan Nicole Wise peneliti dan pengamat perkembangan anak, orang tua seperti ini menyimpan kekhawatiran yang sangat dalam akan masa depan anak-anak mereka. Akibatnya segala upaya yang dianggap baik bagi anak dilakukan tanpa memperhatikan kebutuhan anak itu sendiri. Singkatnya, “ Hyper parenting”, adalah over scheduling dan over enriching kepada anak –anak.Sementara itu menurut Reni Akbar, hyper parenting terjadi karena orang tua merasa tidak puas dengan pola asuh yang mereka dapatkan semasa kecil. Bisa jadi mereka tidak puas dengan karir atau kehidupan mereka secara keseluruhan, ungkap dosen psycology Universitas Indonesia ini. Akibatnya semua obsesi plus ketidakberuntungan itu dibebankan kepada anak. Orang tua berharap anak-anak bisa memberikan dan mendapatkan apa yang mereka tidak dapatkan. Padahal belum tentu hal ini sesuai dengan kebutuhan, keinginan, minat dan bakat anak. Orang tua yang hyper kerap tak menyadari bahwa upaya yang mereka lakukan justru bisa menjadi bumerang bagi anak. Bisa juga anak yang penurut akibat gaya pengasuhan hyper parenting bisa menjadi pemberontak. Kita suka lupa bahwa anak mempunyai kehidupan dan perkembangan sendiri. Kita hanya melihat anak sebagai objek untuk meraih sesuatu.Bagaimana anak seharusnya berkembang? Bermain, bereksplorasi, berekspresi berpendapat dan bahagia. Inilah yang seharusnya dilakukan dan dirasakan anak-anak dalam kehidupannya. Melalui keempat hal tersebut anak-anak bisa mempelajari sesuatu sehingga bisa mengembangkan seluruh potensi kecerdasan dan tumbuh kembangnya. Orang tua hanya perlu memberikan stimulus yang sesuai dengan usia dan tahapan tumbuh kembang anak. Stimulasi ini dapat diberikan setiap kali ada kesempatan. Stimulasi yang kita berikan dengan penuh kasih sayang dan kegembiraan bukan dengan paksaan agar anak merasa nyaman dengan stimulasi itu. Jadi dunia anak adalah dunia bermain, mereka bukanlah miniatur kita orang dewasa (orang tua), sehingga orang tua tak bisa memaksa anak menguasai atau menyenangi semua hal yang dianggap baik. Karena setiap anak memiliki bakat serta keunikan yang berbeda-beda, inilah yang perlu kita asah karena lebihsesuai dengan keinginan anak.Setelah kita paham dengan dunia dan tahap perkembangan anak akankah kita masih sering menyetir hanya karena kecemasan akan prestasi anak ? tentunya kita tidak ingin terjebak pada perilaku hyper parenting bukan ? Di bawah ini adalah beberapa saran agar terhindar dari jebakan hyper parenting :
Menyempatkan waktu bersama anak-anak. Tak ada kesempatan lebih efektif selain bersamanya. Ketahuilah masa kanak-kanak berlalu begitu cepat, tanpa kita sadari tiba-tiba mereka akan sibuk dengan teman sebayanya, pekerjaan dan akhirnya “meninggalkan” kita.
Belajar menjadi pendengar apa yang diinginkan anak. Kita sering menuntut mereka agar mendengarkan perintah dan nasehat kita tapi tidak adil jika kita tidak mau mendengar suara hati mereka. Dengan mendengar orang tua akan peka isyarat anak sekaligus memahami ritme alami anak. Orang tua akan mengetahui mana kegiatan pengayaan yang dibutuhkan anak dan mana yang tidak. Dan tanyakan terlebih dahulu apakah anak menyukai kegiatan tertentu atau tidak.
Sadari dimensi anak. Hindari menilai anak dari semua aspek kehidupannya. Masa kanak-kanak adalah masa persiapan, bukan tempatnya menetapkan standar kita kepada anak. Anak juga berhak gembira, bersenang-senang, beristirahat dan mempunyai waktu luang yang mereka isi sesuai pilihnnya sendiri
Biarkan sesekali anak tidak produktif. Orang tua kerap gerah melihat anak bersantai tanpa kegiatan produktif. Waktu tak produktif diperlukan anak untuk merangsang menciptakan sendiri kesenangannya.
Tidak membandingkan dengan anak lain atau membandingkan masa kanak kita dengan masa kanak anak sekarang. Allah Sang pencipta telah memberi setiap anak keistimewaan dan keunikan masing – masing, maka hargailah keistimewaannya dengan tidak membandingkan dengan anak l lain. Yang terpenting kita motivasi mereka untuk siap hidup jamannya dengan ridhoNya

APAKAH ANDA “ HYPER PARENTING “ ?
Selalu merasa cemas berlebihan pada apa yang terjadi atau dialami anak
Disiplin yang kebablasan, tidak mengenal situasi dan kondisi
Prestasi kognitif anak menjad patokan keberhasilan anak
Sering membandingkan anak dengan anak lain secara ekstrim
Sangat kecewa dan terpukul jika anak gagal atau melakukan kesalahan
Selalu merasa kurang pada apa yang telah dilakukan untuk anak – anak mereka
Kadang berperilaku tak masuk akal: meminta anak tak bermain seharian dan memaksanya mengerjakan sesuatu kegiatan yang dianggap positif
Biasanya menganggap guru selalu tak cukup baik / berhasil dan menyalahkan mereka jika anaknya gagal
Merasa sangat tersinggung jika anak dikritik dan biasanya malah menekan anak

GEJALA ANAK HYPER PARENTING :
Anak menjadi mudah marah
Tertekan, kelelahan akut dan mudah cemas
Menjadi pemberontak
Sakit tanpa alasan, yang jelas biasanya mengeluhkan sakit kepala
Sedikit bicara dan kurang ekspresif
Menjadi tidak suka bergaul
Empati kurang dan jika terus dibiarkan menjadi sangat materialitis
Tidak bisa menyebutkan dengan sesungguhnya apa yang sebenarnya dia inginkan
Tidak terlihat bahagia atau kurang bergairah
Wallahu ‘alam bishowwabYa Robb, perkenankan kami tuk mengemban Amanahmu dengan baik danmengaruniakan kepada kami anak-anak yang hukma shobiya robbi radhiya.Allahumma amin.
By. Eva Rini Mastuti, S.PdDisarikan dari berbagai murooji’
Posting : aridayu

Tidak ada komentar: